30
Sep

Ibadah

Ibadah berasal dari pokok kata ëabada yang artinya merendahkan diri, pasrah, patuh, khidmat. Menurut Raghib Al Ashfani, ibadah adalah merendahkan diri terhadap satu-satunya yang berhak menerima puncak penghambaan / pengabdian, yaitu Allˆh SWT. Menurut Ibnu Taimiyah, ibadah adalah perkataan dan perbuatan lahir batin yang disukai dan diridhoi Allˆh, termasuk mencintai Allˆh dan Rosul-Nya, ikhlas, khusyuí, ridha terhadap ketentuan-Nya, tawakal, sabar, khouf (takut) dan lain sebagainya.Menurut Ibnu Taimiyah, ibadah adalah perkataan dan perbuatan lahir batin yang disukai dan diridhoi Allˆh, termasuk mencintai Allˆh dan Rosul-Nya, ikhlas, khusyuí, ridha terhadap ketentuan-Nya, tawakal, sabar, khouf (takut) dan lain sebagainya. Menurut Muhammad Qothub, dalam bukunya ìMafahim yanbaghi an Tushohhahî (Koreksi atas Pemahaman Ibadah), ibadah meliputi seluruh aktivitas jiwa dan raga serta seluruh aktivitas akal, selama hal ini dimaksudkan untuk menghadapkan diri kepada Allˆh dan berpegang teguh kepada apa yang telah diturunkan-Nya. Selanjutnya ia mengatakan: ìJika syiar-syiar taíabudiyah berupa sholat, zakat, puasa dan haji mempunyai ciri khas spiritual yang menonjol, ini tidak berarti bahwa hanya itulah yang dimaksudkan dengan ibadah maupun untuk akhirat, dan terputus dari dunia, sebab masing-masing mempunyai konsekuensi (sebab akibat) yang harus direalisir dalam kehidupan dunia. Sholat untuk mencegah fakhsya dan mungkar, zakat untuk menyucikan harta dan jiwa, puasa untuk melatih takwa, haji untuk berbuat kebaikan. Semuanya untuk dunia sekaligus untuk akhirat. Jika arti ibadah hanya dibatasi pada syiar-syiar taíabudiyah (ini berarti) bukan hanya segi amal saja yang terdepak pada institusi iabadah, tetapi juga tersingkirnya ìakhlakî yang merupakan kebesaran agama Islam. Akhlak meliputi seluruh kegiatan manusia, tak satupun terlepas dari kawasan akhlak.î (hal. 127-128). Menurut Abul Aíla maududi, segala kegiatan dalam bidang kehidupan ini dapat dijadikan ibadah asal sesuai dengan peraturan Allˆh dan diniatkan sebagai pengabdian kepada-Nya. Ibadah terbagi menjadi dua bagian, yaitu ibadah khassah atau mahdloh dan ibadah ëammah (umum). Ibadah khassah disebut ubudiyah (berupa sholat, zakat, puasa dan haji) yang bersifat keagamaan dan sarat dengan ritual. Dalam ubudiyah ini ada kaedah dalam ilmu usul fiqh yaitu pada dasarnya ia terlarang kecuali telah ditetapkan oleh agama (syaríi). Sedangkan di dalam iabadah umum, segala sesuatu diperkenankan kecuali ada larangan tegas. Dalam ilmu fiqh tadi, ibadah dalam pengertian sempit, yaitu ubudiyah, merupakan salah satu cabang selain muamalat (kegiatan transaksi antar manusia), munakahat (persoalan nikah), uqubah dan jinayah (hal-hal mengenai hukuman).

Jenis-jenis Ibadah

Ibadah dapat dilakukan dengan badan (ibadah badaniyah) seperti sholat dan haji; dengan ruh, jiwa atau hati (ruhiyah) seperti zikrullˆh; dengan harta (m‰liyah) seperti Infaq, zakat dan shodaqoh dan dengan ucapan (lisaniyah) seperti dakwah.

Problematik Ibadah

Banyak orang yang keliru dalam memahami arti ibadah. Mereka mengira bahwa ibadah itu melulu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ibadah khassah atau mahdloh yang sarat dengan ritual yaitu sholat, zakat, puasa dan haji. Padahal sebagaimana dipaparkan di atas, ibadah meliputi segala bidang kegiatan, termasuk kegiatan muamalah (sosial kemasyarakatan) dan akhlak. Akibat pemahaman yang keliru tadi banyak bidang perbaikan pembinaan dan pembangunan sosial kemasyarakatan seperi menyantuni fakir miskin, yatim piatu dan jompo, tidak mendapat perhatian yang semestinya. Setiap tahun ribuan Muslim Indonesia yang pergi haji berkali-kali dengan harapan mendapat pahala yang besar, padahal dengan uang haji berkali-kali itu dapat dibangun ribuan rumah yatim piatu dan untuk orang-orang jompo, membantu jutaan anak-anak yang terputus sekolahnya karena ketiadaan biaya. Mengangkat dan menolong mereka dari kemiskinan dan kebodohan pasti pahalanya jauh lebih besar daripada pahala naik haji berkali-kali. Haji lebih dari sekali tidak dilakukan dan tidak dianjurkan oleh Ros¸lullˆh, padahal bersedekah sangat-sangat digalakkan oleh beliau. Sebagaimana diriwayatkan dari hadits-hadits berikut ini :

ìBersedekahlah kamu, karena sedekah itu sebagai pelepasmu (penebusmu) dari api neraka.î (HR. Thabrani).

ìJagalah dirimu dari api neraka, meskipun sedekah dari sebiji kurma, maka jika tidak dapat maka (dengan sepatah kata yang baik).î (HR. Bukhari dan Muslim)

ìBarang siapa yang memberi makanan kepada seorang muslim maka Allˆh akan mengharamkannya dari api neraka.î (HR. Hakim

ìSesaat dalam jihad fisabilillah lebih baik dari pada lima puluh kali haji.î (HR. Dailami)

Catatan : Berjihad dapat dilakukan dengan harta dan jiwa atau dengan kedua-duanya.

Banyak pahala dan dosa sebagai akibat perbuatan yang baik dan buruk yang berada di luar bidang ibadah mahdloh, diantaranya yang disebutkan dalam Al-Qurí‰n Surat Muhammad [47]: 22

ìMaka apakah kiranya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?î.

Mumutuskan hubungan silaturrahmi dengan keluarga, merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT. Bersabda Ros¸lullˆh SAW

ìMaukah aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih baik dari derajat puasa, sholat dan sedekah?, berkata sahabat, ìBenar ya Ros¸lullˆh,î berkata Ros¸lullˆh,mendamaikan orang yang bermusuhan, maka sesungguhnya binasa orang yang bermusuhan itu, ialah yang mencukur (menghabiskan kebaikan)î. (HR. Muhdzir).

ìSesungguhnya seorang mukmin dapat mengejar dengan budipekertinya yang baik, derajat orang yang terus menerus berkuasa dan shalat malam.î (HR. Abu Daud).

ìMaukah aku kabarkan kepadamu sebesar-besar dosa?, yaitu menyerikatkan Allah, dan durhaka kepada kedua oang tua, dan berkata bohong (dusta)î. (HR. Buhari dan Muslim)

Tujuan Ibadah

Maksud ibadah tidak lain melainkan untuk mencapai derajat taqwa sebagaimana ditugaskan dalam Al Qurí‰n Surat Al Baqoroh [2]: 21

ìHai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwaî.

Taqwa adalah puncak iman yang menjamin kejayaan dan hasanah baik di dunia dan di akhirat bagi seorang mukmin. Dalam Al Qurí‰n taqwa dinyatakan sebagai sebaik-baik bekal (Al Baqoroh [2]: 197).

Ibadah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Firman Allah dalam Al-Qurí‰n Surat Al Muzzammil [73]: 8

ìDan sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepadanya dengan penuh ketekunanî (Depag) ìBut keep in remember the name of thy hord and devote to him wholeheartedlyì (A. Yusuf Ali).

Dengan demikian beribadah harus dilakukan dengan sepenuh hati, bersungguh-sungguh, serta tekun dan tidak asal-asalan serta setengah hati.

ìMaka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya” (akhir ayat 19 : 65)

Dalam ayat-ayat di atas terdapat pengertian sabar, ihsan, istiqomah serta jihad.

Apakah Ihsan? menurut Ros¸lullˆh adalah bahwa ketika beribadah seolah-olah kita melihat Allˆh, dan kalau tidak mampu berlaku demikian, setidak-tidaknya kita yakin bahwa Allˆh melihat kita; Dalam sholat kita harus khusyuí, dalam puasa harus memelihara lidah dari perkataan kotor, ketika memotong hewan harus dengan pisau yang tajam sehinga tidak menyakitkannya, ketika menjadi seorang birokrat (pegawai pemerintah) harus berdisiplin tinggi dan bebas KKN; dalam berdagang tidak boleh menyembunyikan cacat barangnya; dan lain sebagainya. Pada pokoknya dalam setiap kegiatan yang bermuatan ibadah harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Pahala Ibadah

Pahala atau ganjaran ibadah diperoleh di dunia ini juga (sementara) dan di akhirat (kekal). Pahala dunia dapat berupa nikmat, ketentraman, kesejahteraan, kedamaian, harta, kekuasaan, dan lain-lain, baik jasmaniah atau rohaniah, sedangkan pahala akhirat adalah kenikmatan surga yang luar biasa yang menurut Ros¸lullˆh : ìtidak pernah terbayangkan oleh pikiran, belum pernah terlintas di dalam hati dan belum pernah dirasakan di duniaî.

Ibadah dan Ilmu

Wajib bagi orang yang beriman mengetahui seluk-beluk ibadah, adapun bagi seorang awan cukup mengetahui hal-hal yang diperlukan agar dapat menjalankan agama dengan benar, yaitu hal-hal yang pokok seperti rukun islam, rukun iman, rukun sholat, makanan yang halal dan haram dan lain sebagainya. Ilmu yang mempelajari ini adalah ilmu fiqih.

Beribadah Hanya di Tepi

Firman Allah dalam Al Qurí‰n Surat Al hajj [22]:.11

ìdan di antara manusia ada yang menyembah (beribadah kepada) Allah dengan berada di tepi (tanpa keyakinan); maka jika ia peroleh kebajikan, tetaplah dia dalam keadaan itu dan jika ia ditimpa oleh bencana berbaliklah ia kebelakang, rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikianlah kerugian yang nyata.î

Peringatan Allah ini ditujukan kepada mereka yang imannya masih lemah dan kepasrahannya juga belum total. Orang yang benar-benar beriman ketika mendapat musibah mestinya ia kembali kepada Allah sesuai Surat Al Baqoroh ayat 155-157, bukan malahan meninggalkanNya dan mencari jalan yang membawanya kepada kesesatan dan penyimpangan dari jalan lurus.

Jangan Merusak Pahala Ibadah

Setiap perbuatan lahir batin dengan niat untuk mendapat ridho Allˆh dan perbuatan tersebut sesuai dengan peraturanNya, niscaya mendapat cahaya (ganjaran) di dunia dan di akhirat. Sedangkan pahala ibadah akan rusak oleh beberapa hal diantaranya tidak ikhlas (tidak murni karena Allˆh), ingin dipuji alias ria dan suka mengungkit-ungkit apa yang diberikan (baik harta maupun pertolongan lainnya). Lihat Al Qurí‰n [2]: 262, 263, 264

Dengan berpedoman pada tuntunan Al Quríí‰n dan Ros¸llˆh (dalam bentuk hadis) serta penalaran akal sehat yang disinari cahaya Tuhan, maka hendaknya kita dapat membedakan dan memilah serta memilih perbuatan (dan ucapan) yang bernilai ibadah dan mana yang tidak, bahkan mana yang dapat merusak ibadah dan menghilangkan pahala ibadah atau menghalangi kita dari mendapat pahala. Berhati-hatilah dalam mengambil suatu langkah perbuatan, jangan sampai terjerumus pada tindakan sia-sia yang tak bernilai/tak bermanfaat, misalnya banyak tindakan yang halal sekalipun seperti makan makanan yang halal tetapi jika dilakukan secara berlebihan (melebihi keperluan) maka perbuatan tersebut adalah tercela, lihat Alíquran Surat Al Aírof [7]: 31

ìHai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allˆh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.î

Bersabda Rosulullˆh SAW

ìmakanlah kamu dan minumlah, bersedekahlah, berpakaianlah tetapi tidak dengan sombong dan berlebih-lebihan, karena Tuhan Allˆh amat suka melihat bekas nikmatNya pada hambaNya” (dikutip dari tafsir Alí Azhar).

Seorang mukmin tidak dilarang untuk menjadi kaya dengan mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya (tentunya dengan cara yang halal) tetapi pergunakanlah kekayaan itu (setelah dizakati) dengan cara yang baik sehingga tidak mendatangkan beban dan bencana, yaitu tidak dengan cara bermegah-megahan, ingin dipuji orang.

Hal ini Allˆh SWT nyatakan dalam Surat At Tak‰tsur [102], yang maksudnya janganlah bermegah-megah dengan anak, harta, pengikut, kemuliaan, kemasyuran, pangkat dan sebagainya yang menyebabkan lalai dari melakukan ketaatan kepadanya.

Ibadah Untuk Siapa

Manfaat dan pahala setiap ibadah bukan untuk Alloh yang maha berdiri sendiri melainkan untuk pelakunya sendiri. Hal ini disebabkan dalam banyak ayat AlíQuran dan diantaranya dalam Surat Al Luqm‰n [31]: 12

ìBersyukurlah kepada Allˆh, dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiriî
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

No related posts.

Comments are closed.