Setiap selesai membaca ayat suci al Qurían, dengan tanpa pikir kita selalu mengucapkan: shodaqollˆhulíazhÔm, atau kira-kira berarti Maha Benar Allˆh dengan segala firman-Nya. Anehnya, dan itu sering terjadi, kalau kita ditunjukkan hal-hal yang di luar akal kita, kita berkomentar; ìkok ya?î. Ini berarti tidak samanya antara dan sikap. Lebih parah lagi, haqul yakin kita terhadap Allˆh perlu dipertanyakan. Salah satu rukun Islam adalah percaya yang ghoib, sedang dalam surat Al Baqoroh ayat 3 menyatakan bahwa orang yang beriman adalah orang yang percaya kepada yang ghoib.Di pengajian Tawakal, hal-hal yang ghoib sering kali, bahkan hampir setiap saat, dapat disaksikan. Mereka yang sakit dan dokter telah memvonis: medis sudah ìmenthokî dan disarankan untuk berdoía saja, atau persoalan yang secara akal tidak mungkin terselesaikan, ternyata dengan berserah diri kepada Allˆh, yang sakit dikaruniai kesembuhan dan yang persoalannya rumit dapat terurai dengan baik. ìAlpaî percaya terhadap yang ghoib ini tidak saja terjadi pada para ikhwan yang baru, melainkan juga dapat terjadi pada ikhwan yang dianggap senior.

Kejadian ini terjadi di akhir tahun tujuhpuluhan, rombongan berkumpul di Wisma untuk kemudian berangkat ke pengajian di Sukabumi. Saya membawa VW Combi saya, dan Sesepuh bersama Ibu memilih berkendaraan bersama saya. Ada beberapa ikhwan senior lainnya, hanya yang saya ingat Pak Junaidi. Di barisan terdepan, saya mendampingi sopir saya, di barisan tengah Sesepuh, Pak Junaidi dan satu orang lagi, sedang di baris paling belakang Ibu bersama beberapa orang ibu lainnya. Sesepuh menentukan perjalanan lewat Depok dan tak seorangpun ada yang berani menanyakannya, mengapa tidak lewat Cibinong atau lainnya.

Berangkat dari Wisma sesudah maghrib, dan selama perjalanan tidak banyak pembicaraan, kecuali tentang iman, takwa dan tawakal. Sesekali pak Jun, seperti biasa, keluar celoteh humornya. Combi melaju dengan lancar dan nyaman, sampai memasuki wilayah Depok. Jalanan belum seramai sekarang jadi tidak melewati daerah-daerah macet. Haripun mulai gelap, dan dari kejauhan mulai tampak persilangan rel kereta api tersorot lampu kendaraan kami. Makin lama makin dekat, dan saya yakin betul bahwa pintu lintasan memasuki kawasan persilangan itu masih terbuka, dan tidak ada tanda berupa lampu kedip, bel, atau apapun. Combipun memasuki kawasan persilangan, dan tiba-tiba, pintu di sebelah lainnya ditutup. Kendaraan kami terpaksa berhenti, sekalipun sopir saya sudah berusaha membunyikan klakson. Jadi letak Combi antara pintu lintasan dan rel kereta api. Lampu kereta api yang menyorot sangat terang mulai nampak dari arah Jakarta, dengan suara mesinnya yang makin lama makin keras, semakin mendekati kami. Dalam keadaan seperti itu, tidak mungkin kami terus atau mundur dan tidak ada pilihan lain kecuali berhenti dan pasrah. Terus terang saya tidak ingat, apakah saya sempat berdoía. Saya hanya ingat, apakah ini detik-detik terakhir saya menghirup hawa alam fana, sambil mengucap dalam hati: inn‰ lill‰hi wa inn‰ ilayhi rˆjií¸n. Bukankah ayat 156 surat Al Baqoroh menganjurkan demikian jika dicekam rasa takut sekalipun rasa was-was tak dapat begitu saja lenyap. Betapa tidak, rasanya ukuran Combi lebih panjang daripada jarak antara pintu lintasan dan rel.

Saya lupa reaksi Pak Jun, hanya saya ingat Ibu menjerit keras, sedang Sesepuh tetap diam. Sopir saya berteriak-teriak mengumpat penjaga pintu yang ceroboh. Begitu kereta api lewat di belakang kami, sinar lampu kereta makin terang benderang dan gesekan roda dengan rel yang menggelinding makin keras terdengar, degup jantungpun makin keras. Seperti menunggu sesuatu yang secara akal akan mencelakakan, saya menunggu kejadian itu dan tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Tiba-tiba, saya sadari gerbong terdepan telah lewat dan diikuti oleh gerbong-gerbong selanjutnya. Kami selamat!

Dalam hati, pasti cukup ruang antara pintu persilangan dan rel, sehingga tak terjadi apa-apa. Seisi Combi merasa lega, sedang waktu pintu lintasan dibuka, sopir saya sempat menjulurkan kepalanya dan mengumpat penjaga pintu: ìTolol lu!î saya cepat bereaksi untuk mengendorkan ketegangan dengan menepuk bahu sopir saya, seraya berkata: ìSudahlah jangan ngomel, kalau dia itu pinter pasti tidak menjadi penjaga pintu.î Seisi kendaraan tertawa. Perjalanan diteruskan dengan pembicaraan pada kesemberonoan penjaga pintu lintasan.

Pengajian di Sukabumi berjalan lancar, dan masalah peristiwa di lintasan kereta api tidak dibahas. Seperti biasa, pengajian selesai lewat tengah malam, dan Sesepuh beserta Ibu kembali ke Jakarta tidak dengan kendaraan kami. Kami memutuskan kembali ke Jakarta lewat jalan yang sama, dan kalau tidak salah itu usul pak Jun. Saya tidak tahu pertimbangan apa yang dipakai tetapi semua penumpang menerima saja. Mungkin sudah larut malam dan mengantuk sehingga setiap usul diterima saja. Dalam perjalanan pulang saya tertidur, sampai saya terjaga karena kendaraan berhenti, dan berhenti di lintasan kereta api yang sorenya kami lewati. Adalah pak Jun yang keluar dari kendaraan lebih dulu sambil berteriak memanggil penumpang lainnya yang masih ada di dalam kendaraan untuk turun. Kami diminta menyaksikan bahwa ukuran Combi lebih panjang daripada jarak antara rel dan pintu lintasan. Beberapa di antara kami kaki mereka bergetar. Sesuatu yang ghoib telah terjadi! Mestinya Combi telah menjadi terjangan kereta api. Allˆhu Akbar.

Peristiwa itu menjadi pembicaraan yang ramai di Wisma. Setiap orang mempunyai analisis sendiri. Namun hampir semuanya percaya, bahwa kalau saja tidak ada Sesepuh di dalam kendaraan itu, entah apa yang akan terjadi. Setelah sekian tahun peristiwa itu terjadi, saya merenung mengapa Sesepuh menentukan lewat Depok pada waktu itu, yang ada lintasan rel kereta apinya. Mengapa tidak lewat jalan lain. Kesimpulan saya, dan ini terbuka untuk disanggah, Sesepuh ingin menunjukkan pada muridnya yang bandel bahwa berserah diri pada Allˆh, termasuk berserah diri kepada yang Maha Ghoib. Perjalanan teori terkadang terasa hambar tanpa adanya contoh soal atau praktek. Namun kali ini, prakteknya terlalu berat dan mengagetkan.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

Comments are closed.