Takwa kepada Allˆh SWT merupakan perintah yang terbanyak dalam Al Qur’an. Perintah bertakwa terdapat dalam 54 ayat dari 24 Surat. Sebagai perbandingan, perintah mendirikan shalat terdapat dalam 15 ayat dari 17 Surat dan perintah bersabar terdapat dalam 20 ayat dari 21 Surat (lihat “Indeks Al Qur’an” karya Azharuddin Sahil, penerbit Mizan, Cet.I/1994 ). Beberapa ayat yang memuat perintah Takwa diantaranya
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allˆh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allˆh, sesungguhnya Allˆh mengetahui apa kamu kerjakan” (Al Hasyr [59]: 18)
“Berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah Takwa dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal“.(Al Baqoroh [2]: 197).
ARTI KATA TAKWA
Secara bahasa, takwa berarti: ittaqo, yattaqie, ittiqo-an , attaqwa. Dan akar kata takwa ialah waqo, waqi, waqoyatan, wawaqiyan, wawaqiyatan yang artinya memelihara dan menutupi dari keburukan. Adapun secara istilah, menurut Abu Luis, penyusun Al Munjid adalah “Makhofatullˆh wal ‘amala bitho’atihi“: “takut kepada Allˆh dan beramal dengan mematuhinya“.
Takwa secara (dalam arti) bahasa dapat dicapai oleh siapapun di dunia ini, sebab takwa di sini bermakna: “Menjaga diri dari keburukan serta menutupi diri dari perbuatan yang salah ,keliru, tidak bermanfaat, merugikan dan lain sebagainya“. Misalnya dalam dunia permainan catur, dapat dikatakan bahwa seorang juara dunia catur adalah orang yang lebih bertakwa daripada pemain catur yang lain karena ia mampu menjaga serta menutup dari melakukan kesalahan dan kesilapan dalam bermain catur.
Untuk lebih jelas kita ambil contoh kehidupan sebuah rumah tangga yang mampu menjalani hidup ini dengan rukun, aman dan damai. Suami istri serta anak-anak selalu diliputi oleh kerukunan dan kemesraan. Apa sebab hal itu dapat terjadi? Sebab suami tahu dan mampu menjaga dirinya supaya tetap dipercaya dan sekaligus dihormati oleh sang istri. Dan istripun tahu menjaga dan memelihara hati suaminya. Mereka berdua mampu menjaga, memelihara dan mendidik anak-anaknya, sehingga kehidupan rumah tangga mereka benar-benar sejahtera. Dengan demikian secara bahasa , suami istri tadi telah mencapai derajat takwa dalam pengertian bahasa.
Selanjutnya, suami istri yang telah mencapai derajat takwa dalam pengertian bahasa tadi, kalau mereka sadar bahwa mereka lahir ke dunia ini bukan semata-mata karena adanya ayah dan ibu mereka, tetapi karena kudrat dan iradat dari Yang Maha Pencipta dan Dialah satu-satunya Zat yang layak untuk disembah. Kemudian merekapun menyembah Zat Yang Maha Agung itu dengan meniru apa yang diajarkan oleh utusan-Nya yang penghabisan yang bernama Muhammad, dan Yang Maha Agung itu sendiri bernama Allˆh. Jika ada kesadaran yang semacam itu, maka suami istri yang digambarkan tadi mampu mencapai derajat takwa dalam pengertian kedua-duanya, yaitu “bahasa dan istilah”.
Takwa dalam pengertian kedua-duanya itulah yang semestinya ditempuh dan dimiliki oleh orang-orang yang beriman.
Prof.DR.Hamka dalam tafsir Al Azharnya menerangkan arti takwa sebagai berikut: Apa arti Takwa ? Kalimat Takwa diambil dari kata wiqoyah, artinya memelihara. Memelihara diri jangan sampai terperosok kepada suatu perbuatan yang tidak diridhoi oleh Tuhan. Memelihara segala perintah-Nya supaya dapat dijalankan. Memelihara kaki jangan sampai terperosok ke tempat yang berlumpur atau berduri. Sebab pernah ditanyakan kepada sahabat Ros¸lullah, Abu Hurairoh (ridho Allˆh untuk beliau), apa arti Takwa?, Beliau berkata, “Pernahkan engkau bertemu jalan yang banyak berduri dan bagaimana tindakan engkau waktu itu?” Orang itu menjawab, ” Bila engkau melihat duri, akan mengelak ke tempat yang tidak ada durinya atau engkau langkahi atau engkau mundur,” Abu Hurairah menjawab, “Itulah Takwa.” (Riwayat dari Ibnu Abid Dunya).
Takwa mengandung makna takut dan memelihara. Di dalamnya terkandung khouf dan roj‰’. Khˆuf berarti takut akan azab-Nya sedangkan roj‰’ berarti mengharap akan rahmat-Nya (Tafsir Al Azhar).
Menurut Abul A’la Al-Maududi dalam bukunya “Islamic Way of Life”, takwa adalah juga penolakan segala sesuatu yang dilarang Tuhan, malahan sampai-sampai kepada yang makruh sekalipun, sebagai tanda kesetiannya dan kesediaannya yang sangat dalam memperhatikan perbedaan antara yang halal dan haram, yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk (jahat) dalam kehidupan manusia,” (Pokok Pandangan Hidup Muslim, alih bahasa Osman Raliby).
Menurut A,Yusuf Ali, Takwa mengandung arti :
- Takut kepada Allˆh
- Mengendalikan diri atau menjaga dan memelihara lidah, tangan dan hati dari melakukan kejahatan
- Sidik (benar), taat, saleh dan bertingkah laku yang terpuji (The Holly Qur’an).
IMAN, ISLAM DAN TAKWA
Firman Allˆh dalam Al Qur’‰n Surat Ali ‘Imrˆn[3]: 102 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allˆh (dengan) sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (yakni berserah diri, tunduk patuh kepada Allˆh)”
Dalam ayat tsb. terdapat tiga kata yaitu Iman, Takwa dan Islam. Ketiga kata tersebut dapat dibedakan definisinya (artinya) dan itupun tidak jauh berbeda. Perbedaan antara Islam dan Iman dijelaskan dalam Al Hujurˆt [49]: 14
“Orang-orang Arab dusun itu berkata: “Kami telah beriman”, Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi kami telah Islam (tunduk) karena Iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jikalau kamu taat kepada Allˆh dan Ros¸l-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allˆh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Menurut DR. HAMKA: “Dengan semata-mata mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allˆh dan Muhammad adalah utusan Allˆh, mengakui dengan lidah, mentasdiq-kan apa yang diakui dengan ucapan lidah itu dengan hati, serta mengikutinya dengan perbuatan sudahlah boleh orang itu menyebut dirinya Islam, dan telah mengerjakan apa yang wajib dikerjakan oleh orang Islam, belum tentu orang beriman atau percaya. Berapa banyak orang Islam, dia mengucapkan syahadat, dia mengerjakan sembahyang, dia berpuasa dan naik haji, namun imannya kepada Allˆh belum dihayatinya, belum disadarinya dan belum diinsafinya, sehingga ke-Islamannya itu tidak mengesankan kepada kehidupannya” (Tafsir Al-Azhar).
Kendatipun ketiga hal tersebut dapat dibedakan artinya, namun dalam pelaksanaan dan pengamalannya tidak dapat dan tidak mungkin dipisah-pisahkan, karena ketiga-tiganya mengandung makna: pasrah, taat dan patuh serta tunduk kepada Allˆh SWT. Meskipun demikian, dari beberapa pernyataan firman Allˆh dalam Al-Qur’an, kita dapati bahwa Iman adalah hasil peningkatan dari Islam dan Iman pula dapat ditingkatkan menjadi Takwa.
TAKWA, BUAH DARI IMAN
Takwa merupakan hasil yang kita harapkan dari semua bentuk ibadah kepada Allˆh, baik ibadah khusus (mahdoh) seperti sholat, puasa ,zakat dan haji maupun bentuk ibadah non mahdoh lainnya seperti mencari rezeki yang halal untuk keluarga, menuntut ilmu yang bemanfaat, membela negara, membangun masyarakat dan lain-lain sebagainya. Hal ini dijelaskan oleh Allˆh dalam Al Qur’‰n:
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa” (Al Baqoroh [2]: 21)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya menjadi orang yang bertakwa.” (Al Baqoroh [2]:183).
Penegasan dalam ayat-ayat tersebut di atas diperkuat oleh pernyataan yang tercantum dalam Al Qur’‰n Surat Al Baqoroh [2]: 2,
“Kitab (Al Qur’‰n) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
Dari ayat-ayat yang kami ungkapkan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa takwa merupakan puncak (pendakian) tertinggi yang dikehendaki dari seorang beriman dalam pengabdiannya kepada Allˆh Tuhan Semesta Alam.
TAKWA MERUPAKAN HASIL DARI PROSES PENINGKATAN IMAN
M. Yunan Nasution dalam bukunya Khutbah Jum’at (Jilid I halaman 57-58), membagi kehidupan seorang Muslim dalam 5 (jenjang) peringkat, yang untuk mudahnya disebut M5.
Muslim (M1)
Seorang manusia yang telah menerima dan mengikrarakan Islam sebagai agamanya dengan mengucapkan kalimah syahadah. Artinya, orang ini percaya sudah menerima segala kewajiban-kewajiban dan hak-hak yang telah digariskan oleh Islam.
Mukmin (M2)
Seorang Muslim tidaklah cukup dengan pengakuan itu saja, tetapi harus diiringi dengan amal/perbuatan/tindakan yang diperintahkan oleh agamanya. Dengan melaksanakan hal itu, dia meningkat menjadi seorang Mukmin.
Muhsin (M3)
Seorang Mukmin haruslah mengerjakan perbuatan kebajikan yang disebut ihsan. Ihsan itu meliputi segala perbuatan yang baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Dari seorang Mukmin meningkat lagi menjadi seorang Muhsin.
Mukhlis (M4)
Seorang Muhsin mengerjakan ihsan itu semata-mata karena berbakti kepada Tuhan, bukan karena mengharapkan pujian, sanjungan, pangkat dan lain-lain; akan tetapi sungguh-sungguh ikhlas, saat itu manusia meningkat menjadi seorang Mukhlis.
Muttaqin (M5)
Pada tingkat terakhir, barulah manusia Muslim itu sampai ketingkat ke-lima yakni menjadi orang muttaqin
TAKWA BUKAN TAKUT KEPADA TUHAN ALL÷H.
Seringkali takwa diartikan secara amat sempit yaitu takut kepada Allˆh. Hal ini tidak seluruhnya salah tetapi juga kurang tepat karena dalam takwa tidak hanya ada unsur takutnya, bahkan ada segi-segi beraninya.
Kata DR. Hamka: “Dalam takwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridho, sabar dan lain-lain sebagainya. Takwa adalah pelaksanaan dari iman dan amal sholih. Meskipun suatu waktu ada juga diartikan dengan takut, tetapi terjadi yang demikian itu pada susunan ayat yang cenderung kepada arti yang terbatas itu saja. Padahal arti takwa mengumpul kepada banyak hal, bahkan dalam takwa juga terdapat berani. Memelihara hubungan dengan Tuhan, bukan saja karena takut tetapi lebih lagi ada kesadaran diri sebagai hamba” (Tafsir Al-Azhar).
Perbedaan antara takwa dan takut nampak dalam surat An N¸r [24]:52:
“Barang siapa yang taat kepada Allˆh dan Ros¸l -Nya, dan takut kepada Allˆh dan bertakwa kepada-Nya , maka merekalah orang-orang yang mendapat kemenangan“.
Menurut A.Yusuf Ali dalam “The Holy Qur’an”, takut itu dapat berbentuk :
- Perasaan takut seorang pengecut,
- Takutnya seorang anak kecil atau seorang yang tidak berpengalaman ketika menghadapi bahaya,
- Takutnya seorang manusia biasa yang ingin menyelamatkan dirinya atau orang lain dari bahaya yang mengancamnya dan
- Penghormatan, yang sangat dekat kepada perasaan cinta karena khawatir berbuat sesuatu yang tidak disukai oleh orang yang dicintainya itu.
Jenis yang pertama (1), adalah manusia yang tidak berharga; jenis yang kedua (2) adalah kemestian, yang ketiga (3) adalah sikap berjaga-jaga yang pantas dan yang keempat (4) adalah benih-benih atau dasar-dasar kebenaran.
Mereka yang telah mantap (matang) dalam imannya menyuburkan jenis takut yang keempat; pada peringkat awal jenis yang ketiga atau kedua boleh jadi suatu kemestian, mereka takut tetapi bukan takut kepada Allˆh. Yang pertama (1) adalah perasaan dimana seseorang semestinya merasa malu “(The Holy Qur’an, hal. 149)”.
Menurut Imam Al Ghozali, perkataan takwa dalam Al Qur’‰n dipakai dalam tiga arti: takut kepada Allˆh, taat kepada-Nya dan memperkuat batin hingga dapat menolak ajakan jahat. (Imam Al Ghozali, Cinta dan Bahagia, Tinta Mas 1983).
No related posts.

