Tidak mudah untuk mengetahui seluk beluk pengajian Tawakal melalui sebuah tulisan. Bagaimanapun lengkapnya tulisan tersebut, selalu ada saja yang terlewat (overlook). Untuk mengatasi hal tersebut, dalam tulisan ini dicoba dengan bentuk tanya jawab antara pembina senior dengan ikhwan/jamaah tawakal. Untuk pertanyaan, ditulis dengan singkatan T dan untuk jawaban ditulis dengan singkatan J ; sedangkan Pengajian Tawakal disingkat dengan PETA.

T : Mohon dijelaskan apa itu PETA
J : PETA adalah pengajian yang menggunakan metode atau cara tertentu yang disebut sujud berserah diri (disingkat JUDRAH)
 
T : Apakah JUDRAH merupakan keharusan ?
J : Tidak mungkin untuk menerangkan JUDRAH secara terperinci, apalagi mengenai pelaksanaan teknisnya. Disini hanya akan diuraikan pokok-pokoknya saja.
PERTAMA, JUDRAH adalah proses awal dari suatu pendekatan diri seorang hamba kepada pencipta-Nya, Allah SWT.
KEDUA, dilakukan dibawah "komando" seorang Pembina ; ini artinya si hamba Allah tidak dapat melakukan JUDRAH sendiri.
KETIGA, seorang Pembina hanya akan men-judrahkan seorang hamba setelah si hamba tersebut disiapkan (oleh Pembina) untuk melakukan per-judrahan.
KEEMPAT, dilakukan pada waktu dan tempat yang sesuai (menurut Pembina).
 
T : Dalam rangka persiapan tersebut, kondisi apa yang paling penting yang harus dimiliki seorang hamba Allah ? Apakah ilmu agamanya atau kesolehannya ?
J : Yang pertama-tama tentu saja niatnya untuk berserah diri kepada Allah dan yang kedua (ini yang terpenting) adalah tingkat keyakinannya (terhadap Allah). Jadi bukan ilmu dan kesolehannya itu.
 
T : Bacaan apa yang dibaca/diucapkan dalam per-judrahan ?
J : Sebaiknya (bukan wajib) untuk seorang muslim, bacaan sebelum dimulai adalah, Syahadat dan Shalawat serta Al-Fatihah (ini sekurang-kurangnya), boleh ditambah lagi dengan yang lain-lainnya seperti istigfar, tasbih, tahlil dsb. Dan selama per-judrahan berlangsung, pelaku dikomandoi oleh Pembina untuk menyebut Allah serta asma-asma-Nya yang lain, seperti Ya Rohman, Ya Hayu, Ya Qoyum, dsb. Menyebut nama Allah itu dilakukan di dada tengah pelaku. Untuk hamba Allah yang non-Muslim, cukup nama Allah saja yang diucapkan/disebut.
 
T : Jika demikian halnya, apakah orang-orang yang non-Muslim boleh di-judrahkan ?
J : Siapa saja boleh di-judrahkan, asal dia menginginkannya (artinya ia juga percaya kepada Tuhan YME, yaitu Allah SWT), setelah di "baladah"/dipersiapkan oleh Pembina.
 
T : Apakah peranan Pembina/Pembimbing dalam per-judrahan ?
J : Ia mempersiapkan pelaku, termasuk memberikan penjelasan maksud judrah dan mengawasi, memberi komando dengan ucapan-ucapan tertentu, terutama mengenai kepasrahan dan kemutlakannya kepada Allah.
 
T : Apa yang terjadi selama JUDRAH berlangsung ?
J : Setiap yang di-judrahkan (pelaku) akan mengalami sensasi dalam dirinya berupa getaran atau gerakan tertentu atau mengeluarkan suara tertentu seperti teriakan atau tangisan. Bentuk-bentuk sensasi tersebut sesuai dengan kondisi jiwa si pelaku masing-masing. Gerakan atau tarikan suara tersebut, bukan buatan sendiri dan tidak dapat ditahan.
 
T : Selama JUDRAH apa tetap sadar ?
J : Sangat sadar 100 %, jadi bukan "in trance", kita tetap sadar sambil menyebut Allah, Allah.
 
T : Berapa lama proses per-judrahan ?
J : Setiap per-judrahan, berlangsung maksimum satu jam (jangan kurang dari 45 menit). Per-judrahan untuk seorang hamba, tergantung dari kondisinya masing-masing, tetapi pada umumnya antara 3-4 kali ; sedangkan jarak waktu antara satu judrah ke judrah yang berikutnya, antara 10-15 hari (jangan terlalu dekat, untuk mencegah terjadinya transisi berat).
 
T : Apa pengaruh atau efek judrah bagi pelakunya ?
J : Setiap orang yang melaksanakan judrah pasti mengalami perubahan dalam dirinya, dalam perilaku dan fikir serta dalam kondisi mental dan spiritualnya.

Boleh dikatakan, orang tersebut akan mengalami transformasi total dalam jiwanya, dalam arti dari kondisi yang negatif, menjadi kondisi yang positif dalam segala hal, termasuk kondisi kesehatannya, demikian juga perilakunya yang tadinya menyimpang dari norma-norma agama, berubah total menjadi perilaku yang terpuji.
Dampak per-judrahan ini juga terasa pada organ-organ dalam seperti hati, jantung, paru-paru, ginjal, otak syaraf dan lain-lain, dalam arti mereka itu berfungsi secara maksimal. Dapat dirasakan umpamanya, tidur menjadi lebih nyenyak, makan minum menjadi lebih nikmat, otak menjadi lebih encer (memahami/mengingat sesuatu).

 
T : Apa perbedaan JUDRAH dengan DZIKIR ?
J : Pada dasarnya judrah adalah dzikir juga yaitu dzikir gerak sebagaimana shalat. Shalat juga sebenarnya dzikir (doa) sambil bergerak ; jadi shalat itu adalah dzikir (doa) gerak yang khusus (waktunya, kondisi badannya-suci-, bacaannya dan geraknya). Persamaannya adalah : semua itu untuk mengingat Allah dan mendekati-Nya.
 
T : Perlakuan atau "treatment" apakah yang diberikan kepada pelaku judrah selama dia atau dalam periode satu judrah kepada judrah lainnya ; artinya sampai dia dinyatakan selesai judrahnya ?
J : Perlakuan kepada dia sama saja sebagaimana yang diberikan kepada mereka yang datang ke "padepokan" Tawakal. Bedanya, kepada pelaku judrah diberikan perhatian khusus dalam arti diawasi terus untuk menghindarkan transisi berat atas diri mereka.
 
T : Mohon diterangkan apa yang dimaksud dengan "perlakuan" tersebut.
J : Maksud "perlakuan" disini adalah penjelasan atau penerangan mengenai PETA itu sendiri, dalam arti intinya :
Dalam bahasa Sunda penerangan dan penjelasan ini disebut baladah, yang artinya mempersiapkan seseorang agar "matang" (siap) untuk di judrahkan.
 
T : Mohon dijelaskan inti PETA itu.
J : Kepada siapa saja yang datang ke "Padepokan" Tawakal atau yang berkonsultasi kepada Pembina Tawakal diuraikan/diterangkan hal-hal yang intinya adalah sbb:

Pertama-tama keyakinan atau Iman kepada Allah SWT. Keyakinan ini terdiri dari empat tingkat :
(1) Percaya,
(2) Yakin,
(3) Ainul yakin,
(4) Haqqul yakin.

Keyakinan yang terakhir inilah yang paling tinggi dan yang dikehendaki dari setiap orang ber-iman.
Keyakinan ini merupakan pangkal atau fundamental pijakan kita menuju Allah SWT.
Keyakinan yang tinggi digambarkan sebagai keyakinan yang mutlak dan bulat yang tak dapat diganggu, tak dapat digoyahkan, bagaikan bola besi (bukan seperti bulat bola pingpong yang kalau dipukul keras bisa pecah atau benjol).

Keadaan atau kondisi semacam ini akan menghasilkan kekuatan yang maha dahsyat pada mereka yang memilikinya; dengan perkataan lain kondisi ini akan membuahkan berbagai kebaikan (khairan), kemenangan, keberuntungan, kejayaan, rahmat, ampunan, keberkahan, kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hal kedua yang harus ditekankan ialah kepasrahan kepada Allah Rabbul ‘Alamin. Kepasrahan seperti apa yang dikehendaki oleh Allah yang Maha Rahman ? Jawabnya adalah Kepasrahan total tanpa syarat atau tanpa serep (reserve), bukan kepasrahan basa-basi atau kepasrahan seorang penjahat kepada polisi, setelah si penjahat tsb terpaksa menyerah karena tak ada daya lagi untuk lolos alias terpojok. Yang diinginkan oleh-Nya adalah kepasrahan dengan sukarela dan hanya kepada-Nya saja, bukan kepada yang lain (ikhlas). Kepasrahan ini bagaikan kepasrahan seorang bayi dalam pelukan ibunya, ia tidak memikirkan apa yang bakal terjadi pada dirinya; semuanya milik Allah, terserahlah kepada-Nya saja. Kepasrahan juga berarti tunduk dan patuh kepada kehendak-Nya, kepada petunjuk-Nya, kepada kodrat-Nya dan iradat-Nya.

Hal ketiga yang perlu ditekankan adalah keharusan untuk berbudi pekerti atau berakhlak yang luhur. Dalam Islam hal ini digambarkan dengan wudhu perbuatan yang tidak boleh batal dalam kehidupan sehari-hari. Ketika batal wudhu dengan mudah kita berwudhu lagi, tetapi ketika perbuatan kita yang tercela, berlumur dosa, semisal menyakiti saudara kita tanpa alasan yang pantas, sukar sekali memulihkannya. Dalam hal itu kita membuat dua dosa/kesalahan, kepada orang itu langsung dan kepada Allah. Hakikat wudhu (yaitu wudhu perbuatan) adalah bagian dari TAKWA yang merupakan tiang agama. Dalam PETA, TAKWA ini sangat ditekankan, karena mengabaikan ke ketakwaan kepada Allah akan menjerumuskan manusia kepada kebinasaan dan penderitaan.
Dengan demikian inti pokok PETA ada tiga yaitu keyakinan yang mutlak (haqqul yakin), kepasrahan total dan kesucian hati/kebersihan jiwa.

 
T : Mengapa disebut atau memakai nama Pengajian Tawakal, tidak nama yang lain, misalnya pengajian At-Takwa ?
J : Pengajian dengan metode dan atau ciri-ciri yang diuraikan diatas, boleh diberi nama apa saja, termasuk At-Takwa, Al-Ikhlas, dsb. Adapun alasan pemakaian Tawakal tersebut ada dua :
Pertama, pada umumnya yang datang ke PETA itu adalah orang-orang yang punya masalah; maka untuk mengatasinya tidak lain dengan kepasrahan total kepada Allah dan pada setiap saat baik waktu senang maupun waktu susah (setelah berupaya sekuat tenaga), itulah Tawakal.
Kedua, tema-tema Tawakal jarang dikedepankan di majelis-majelis pengajian atau dakwah para mubaligh/ustad.
 
T : Tadi dikatakan sebagian besar orang yang datang ke PETA adalah mereka yang punya problem kehidupan ; problem apa saja yang dibawa ke PETA.
J : Semua problem kehidupan dapat diboyong ke PETA seperti masalah rumah tangga, kesempitan hidup, serta penyakit, ringan maupun yang berat, seperti kanker, gangguan jiwa seperti stres berat, dll.
 
T : Apakah ada pengunjung yang hanya ingin belajar ?
J : Kalau belajarnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, ya banyak juga.
Harus diingat, PETA bukanlah perguruan Islam yang mengajarkan ilmu-ilmu ke-Islaman akan tetapi sebuah tempat untuk belajar menghayati firman dan petunjuk Allah dalam kehidupan sehari-hari agar ia hidup sakinah (tentram), bebas dari rasa takut dan duka cita. PETA juga pernah menjadi kajian beberapa mahasiswa untuk penulisan skripsi mereka.
 
T : Kalau demikian halnya apakah yang menjadi sasaran pokok PETA ?
J : Sasaran pokoknya adalah mengajak manusia menjadi mukmin sejati (al-mukminuna haqqo) yaitu manusia yang beriman, yang bersungguh-sungguh (jihad) dijalan-Nya, yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta agamanya (Islam), berbudi luhur, dengan kata lain bertakwa serta pasrah kepada kehendak Allah SWT (ber-Tawakal).
 
T : Tadi dikatakan bahwa pada umumnya pengunjung PETA adalah mereka yang sedang dihimpit problem, sehingga cara pendekatannyapun disesuaikan dengan kondisi tersebut, apakah demikian halnya ?
J : Benar sekali, yaitu men "tackle"/menanggulangi/menyesuaikan problem kehidupan dengan IMAN melalui metode KONSULTASI.

Penjelasannya sbb :
Pada dasarnya setiap orang mempunyai masalah selama nyawa masih dikandung badan, kecil atau besarnya, ringan atau besarnya tergantung kepada sikap atau pandangan orang tersebut dalam menghadapi masalah tersebut. Sedangkan sikap atau pandangan tersebut tergantung kepada kadar ke-imanan atau penghayatan spiritual/keagamaannya.

Melalui konsultasi (spiritual), masalah kehidupan yang tengah dihadapinya tersebut diberi jalan keluar, sehingga ia merasakan langsung sentuhan kasih sayang dan kekuasaan Allah Yang Maha Pengatur, sehingga pada gilirannya orang tersebut akan bertambah kadar dan penghayatan ke-Imanannya. Konsultasi atas dasar pengenalan sifat-sifat dan kekuasaan Tuhan tadi menjadi pendorong yang sangat kuat untuk mendekatkan dirinya kepada Allah, Tuhan semesta alam.

 
T : Apakah dapat dikatakan, bahwa PETA merupakan gerakan dakwah ?
J : Benar demikian, yaitu dakwah yang sangat unik dalam arti dakwah melalui pemecahan masalah kehidupan dengan cara konsultasi. Konsultasi keagamaan tadi dilakukan antara seseorang dengan pengasuh (Pembina atau Pembantu Pembina) dengan menggunakan metode JUDRAH yang merupakan "pembuka hijab". Dapat dikatakan, dakwah PETA adalah dakwah "problem solving". Ini adalah dakwah yang sangat efektif dan produktif hasilnya karena dirasakan langsung oleh yang bersangkutan.
 
T : Untuk mereka yang datang dengan maksud penyembuhan/pengobatan suatu penyakit, bagaimana penanganannya ?
J : Semua yang datang ke PETA diperlakukan sama saja, yaitu dengan melaksanakan proses JUDRAH (Sujud Berserah Diri).
 
T : Bagaimanakah dampak JUDRAH penyembuhan bagi para penghayatnya ?
J : Hendaknya perlu diingat bahwa PETA bukanlah "bengkel orang-orang sakit" atau "rumah sakit" akan tetapi tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berserah diri secara total kepada Allah SWT. Memang sebagai akibat penyerahan diri yang total tersebut dipastikan terjadi proses penyembuhan yaitu "penyembuhan pada jiwanya " ; Artinya kalau dia sudah kembali kepada Allah, secara hakiki dia sudah kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang suci ; ia telah sembuh meskipun fisiknya mungkin masih sakit.
Firman Allah dalam Al-Qur’an S.39:54 :

"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)"

Melalui ayat ini Allah berseru dan mengajak kepada setiap hamba-Nya untuk secara sadar mengembalikan diri dan segala urusannya serta berserah diri secara total kepada-Nya. Sebagai balasannya/pahalanya, diantaranya adalah kesembuhan itu.

 
T : Jika begitu, dapatkah dikatakan bahwa JUDRAH juga merupakan jalan bagi penyembuhan penyakit ?
J : Benar demikian.
Firman Allah dalam S.10:57 :

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan Penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang ada) dalam dada dan petunjuk serta rakhmat bagi orang-orang yang beriman "

Firman Allah dalam S.7:108 :

"Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya".

S.16:53 :

"Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan".

Sabda Nabi Muhammad S.A.W.

"Tidaklah Allah menurunkan sesuatu penyakit melainkan diturunkan-Nya pula obatnya" (H.R. Bukhari dan Muslim).

Juga sabdanya :

"Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan diturunkan-Nya pula obatnya, yang diketahui oleh siapa yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahui" (di dalam "Musnad").

Di dalam sujud penyembahan ini, maka pertama-tama harus ada kesediaan dari sisakit untuk berserah diri bulat (mutlak) kepada Allah dan dengan penyerahan diri yang mutlak tersebut ia bermohon penyembuhan dari Allah Yang Maha Penyembuh. Soal sembuh atau tidak, sepenuhnya urusan-Nya semata-mata. Dia mau menyembuhkan, tidak ada yang menghalanginya, Dia tidak mau menyembuhkan, tak seorangpun bisa memaksanya. Mengenai sujud penyembuhan ini supaya dicamkan benar-benar bahwa sujud penyembuhanpun bukan untuk penyembuhan itu sendiri melainkan untuk MENGEMBALIKAN DAN MEMBAWA MANUSIA KEPADA ALLAH YANG MAHA TINGGI, inilah tujuan utamanya. Jika ternyata penyakit itu benar-benar sembuh, maka hal itu merupakan karunia Allah yang maha besar. Dengan demikian penyakitnya sembuh dan sekaligus jiwanya juga sembuh (kembali kepada Allah SWT).

Agar supaya memenuhi sasarannya, maka hendaknya tata cara sujud penyembuhan ini dilakukan menurut petunjuk-petunjuk yang telah dilakukan.

 
T : Setelah per-JUDRAHAN selesai, langkah dan tindakan apa yang dilakukan terhadap mereka ?
J : Adalah sangat penting untuk melakukan pembinaan terhadap mereka yang telah selesai menjalankan JUDRAH.
Pertama-tama supaya diketahui bahwa mereka itu seringkali berkelakuan agak aneh : kapan saja dan dimana saja sering berbicara mengenai ke Tuhanan, khususnya mengajak orang supaya berserah diri dan kembali kepada Allah SWT. Orang-orang disekelilingnyapun biasanya merasa heran atas perubahan perilakunya. Keadaan ini disebut masa transisi, suatu kondisi kejiwaan yang disebabkan oleh perubahan yang besar dan mendadak serta radikal.

Keadaan ini akan berlangsung sekitar beberapa minggu. Kepada mereka yang sedang mengalami transisi tersebut dinasehait supaya berhati-hati dan sanggup mengendalikan diri agar tidak dianggap terlalu "aneh". Langkah seterusnya adalah, agar kepada mereka ditekankan untuk tidak lupa menjalankan dzikir harian dengan al-asmaul husna dengan jumlah tertentu (ada 7 pasang mulai hari Ahad sampai hari Sabtu).

Kepada mereka juga diingatkan agar dalam berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya, selalu menjaga wudhu perbuatan, jangan sampai batal. Beberapa larangan yang sangat penting untuk dihindari antara lain bohong dan marah. Bohong adalah induk kejahatan, sebab dari bohong itu mengalir kejahatan lain seperti ingkar janji, tidak jujur, tidak amanah, hianat, dll. Kemarahan menimbulkan akibat buruk bukan hanya bagi orang lain yang terkena marah tetapi juga dirinya sendiri : amarah menjadi sebab berbagai penyakit seperti darah tinggi, stroke, gula, dll.

Amarah juga menyebabkan merosotnya daya tahan tubuh yang diperlukan untuk menjaga kebugaran serta perlambatan proses penuaan. Menahan amarah termasuk yang diwajibkan dari segi syariah agar mencapai derajat Takwa (lihat Q.S. 3: 3-4). Penyakit hati yang juga wajib dihindari adalah iri hati, dengki, sombong dan kedirian (egosentris) dan nafsu-ananiyah. Nafsu kedirian (aku) ini seringkali tidak nampak dari luar, akan tetapi ia terekspresikan (terlihat) dalam bentuk tingkah lakunya seperti selalu ingin menonjol, ingin dipuji, mudah tersinggung dalam hal-hal kecil sekalipun. Pendeknya, semua penyakit hati, bahkan penyebab penyakit hatipun wajib dihindari.

T : Bagaimana dengan Dzikrullah ?
J :

Dzikrullah dalam PETA merupakan "santapan" harian yang tidak boleh ditinggalkan.
Ada dua hal penting mengenai dzikir ini dalam PETA yaitu caranya dan lafadz atau ucapannya (apa yang dibaca), yang kedua-duanya bersumber dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah.
Adapun caranya adalah berdasarkan Q.S.7:55 dan ayat 205 :
S.7:55 :

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan tadarru -berendah diri- dan suara lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas".

S.7:205 :

"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam dirimu/jiwamu dengan merendakhan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai".

Dalam PETA, dzikir ini dinamakan "dzikir nafs" atau "dzikir diri" atau "dzikir jiwa", bukan dzikir hati sebagaimana terjemahan Departemen Agama. Alasannya, karena "hati" (qalb) hanyalah salah satu unsur diri atau jiwa yang unsur-unsurnya adalah : roh (jamak : arwah), akal, hawa (nafsu) dan hati.

Pada waktu berdzikir keempat-empat unsur tadi disatukan disertai kepasrahan mutlak (dalam arti berendah diri) dan rasa takut (kepada keagungan, kebesaran dan kasih sayang-Nya) serta dengan suara yang halus atau tidak dikeraskan. Hanya dengan cara inilah, dzikrullah tersebut akan menghasilkan "pahala" atau energi yang luar biasa yang berguna untuk berbagai keperluan di dunia dan akhirat bagi kesejahteraan lahir dan batin, serta bagi kesempurnaan iman.
Firman Allah dalam Al-Qur’an S.62:10 ;

…….."dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu memperoleh keberuntungan"

Mengenai sebutannya (apa yang diucapkan dalam dzikir), perhatikan S.7:180 dan S.17:110.
S.7:180 :

"Hanya milik Allah Asmaul Husna (yaitu nama-nama yang agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah) dan bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu…………".

S.17:110 :

"Serulah Allah dan serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru. Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik)………..".

Dalam PETA berdzikir dengan asmaul husna tersebut (disamping dengan bacaan yang lazim seperti Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Basmallah, dlsb) sangat dianjurkan karena dengan menyebut asmaul husna tersebut (menurut hadis ada 99 nama) kita sekaligus mengenal Allah Ta’ala.

Kepada para jamaah PETA dianjurkan agar selalu berdzikir dengan paling sedikitnya 14 nama Allah (asmaul husna) dalam waktu 7 hari, mulai hari Ahad sampai Sabtu.
Adapun waktu dan tempatnya, sesuaikan dengan pedoman dalam ;
S.9:191 :

"yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau berbaring………………".

Adapun mengenai caranya, hendaknya dilakukan dengan suara yang halus/lembut (khufyah S.7 :55) bukan dengan suara yang keras (jahar, S.7 :205). Dzikir ini disebut juga dengan dzikir sirr (tersembunyi), lawannya dzikir jahar.

 
T : Selain penekanan pada hal-hal yang diterangkan diatas, apakah ada cara-cara lain atau bentuk ritual tertentu ?
J : Benar demikian. Bagi mereka yang ingin memperdalam penghayatan keimanannya, masih ada satu tahap yang harus ditempuh yaitu latihan kejiwaan (riyadhah-an nafs) atau lebih populer disebut tirakatan yang berasal dari istilah tarekat atau jalan.
 
T : Bagaimana bentuk latihan tersebut, mohon dijelaskan dan apakah manfaatnya ?
J :

Latihan tersebut berupa pantangan tertentu yang harus dilaksanakan selama 7 minggu berturut-turut. Agar menghasilkan manfaat yang lebih besar, hendaknya disertai dzikrullah.
Adapun Zikrullah tanpa pantangan sbb :

No Hari Dzikir Arti Jumlah
1 Ahad YA HAYYU
YA QOYYUM
Yang Maha Hidup
Yang Maha Berdiri Sendiri
500 x
2 Senin YA RAHMAN
YA RAHIIM
Yang Maha Pengasih
Yang Maha penyayang
800 x
3 Selasa YA MALIKU
YA QUDDUSU
Yang Maha Pengatur
Yang Maha Suci
400 x
4 Rabu YA KABIRU
YA MUNTAHA
Yang Maha Besar
Yang Maha Tinggi
700 x
5 Kamis YA ‘ALIMU
YA ADHIMU
Yang Maha Tahu
Yang Maha Agung
500 x
6 Jumat YA KAFI
YA MUGHNI
Yang Maha Mencukupi
Yang Maha Pemberi Kekayaan
600 x
7 Sabtu YA FATTAHU
YA ROZAKU
Yang Maha Pembuka
Yang Maha Pemberi Rezeki
900 x

Adapun manfaatnya dapat dirasakan langsung, baik secara fisik maupun secara psikis, antara lain tidur lebih nyenyak, makan minum lebih nikmat dan tubuh lebih segar, jiwa lebih sehat, tentram dan sanggup mengendalikan diri. Ini berarti semua organ atau alat-alat tubuh berfungsi secara optimal.

Setelah menjalankan riyadah tersebut biasanya terjadi perubahan pada pola pikir, jiwa dan cara tindak pelakunya. Ia akan mampu merasakan manisnya "gula", merasakan kelezatan iman, nikmat "bersentuhan" dengan "cahaya Illahi". Insya Allah.

 
T : Apakah riyadah ini merupakan praktek tarekat dan jika benar, apakah PETA juga sebuah aliran tarekat ?
J : Riyadah memang praktek atau kegiatan yang biasanya dijalankan dalam tarekat yang disebut suluk, namun demikian PETA bukanlah sebuah tarekat, tetapi ada unsur-unsur tarekatnya (kecil-kecilan). Kalau pada tarekat ada (wajib) MURSYID sebagai pimpinan tertingginya ; di PETA juga ada Guru Besarnya yang kami sebut sesepuh yaitu Bapak Permana Sastrarogawa (beliau menapakkan kakinya di Jakarta tahun 1973, mendirikan PETA tahun 1974, naik haji tahun 1982 dan wafat tahun 1986 di Jakarta).
 
T : Bagaimana dengan tahap-tahap lainnya dalam jenjang pendakian atau menuju pendekatan kepada Allah ?
J : Apakah yang dimaksud dengan 4 tahapan yaitu syariat, tarekat, hakekat, dan ma’rifat ? Jika maksudnya demikian, memang dalam PETA terdapat ke empat tahap tadi, sebab keempat-empatnya tidak mungkin dipisahkan, jikalau kita ingin mencapai kesempurnaan dalam beragama, dalam mengenal Allah demi meraih keridhaan-Nya serta ketika bertemu (liqo) dengan-Nya di yaumil qiyamah. Agama itu seperti buah kelapa. Sabutnya ibarat syariat, hukum aturan ; batoknya ibarat tarekat, jalan ; isinya (dagingnya) itulah hakekatnya ; sedangkan didalam isinya (dagingnya) itu ada minyaknya, itulah tujuan utama buah kelapa dibuat Tuhan supaya kita dapat menikmati minyaknya, itulah ma’rifat. Jadi ke empat-empatnya merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.

Ambil contoh ibadah shalat ; dari segi syariat ialah rukun-rukunnya (bersuci, niat, menghadap kiblat, berdiri dan seterusnya), dari segi tarekat adalah bacaan dan gerakan-gerakannya serta kekhusuannya, dari segi hakekat adalah tujuannya yaitu untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar sedangkan dari segi ma’rifatnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

 
T : Kembali kepada riyadah, apakah bagi mereka yang telah selesai melaksanakannya telah cukup untuk menjadi anggota jamaah tetap PETA ?
J : Sebenarnya keharusan menjalankan/menyelesaikan riyadah tersebut bukanlah syarat mutlak untuk menjadi jamaah PETA yang biasa kami sebut juga ikhwan. Namun demikian riyadah ini sangat penting bagi calon jamaah untuk mempercepat proses pematangan/pendalaman/penghayatan ke Ilahian/ke Tuhanannya. Tanpa riyadah, perjalanan itu terasa lambat dan panjang dan mungkin membosankan. Riyadah itu menghidupkan semangat (revitalisasi) jiwanya dibidang ke-Tuhanan.
 
T : Apakah untuk menjadi seorang jamaah/ikhwan PETA perlu dilakukan bai’at ?
J : Dewasa ini PETA belum memandang perlu membai’at calon jamaah/ikhwan atas pertimbangan tertentu yang belum dapat dikemukakan disini. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinannya dimasa depan.

Melalui metode PETA yang diuraikan dimuka ia benar-benar merasakan langsung petunjuk itu, sehingga baginya terbuka semangat, cakrawala dan kesadaran tinggi untuk terus meningkatkan diri dalam pengabdiannya kepada Allah, baik melalui ibadah mahdah (khusus) maupun ibadah non-mahdah atau dibidang muamalah.

Seorang jamaah PETA yang tadinya belum bisa baca Al-Qur’an, dia belajar sampai tamat Al-Qur’an, untuk menyebut contoh seorang jamaah PETA dapat merasakan betapa indahnya perkataan Allah dalam sebuah hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim :

" Dan barang siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta ; dan barang siapa yang mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari "

Setiap jamaah PETA telah terbiasa menangis ketika berdzikir, menandakan hati yang salim dan jiwa yang khusu. Dalam hubungannya dengan sesama manusia dan lingkungannya (hablum minannas), ia juga merasakan peningkatan mutunya. Pola pilir dan kecerdasannyapun berubah dan meningkat ; usahanya makin produktif ; karirnyapun melaju tanpa halangan yang berarti.
Itulah antara lain sejumlah manfaat yang dipetik oleh para jamaah PETA. Tentunya masih banyak lagi yang tak disebutkan disini.

 
T : Bagaimanakah dengan kepekaan mereka ?
J : Pertanyaan bagus. Salah satu "bonus" yang diraih dari PETA adalah para jamaah yang "soson-soson" (sungguh-sungguh) menekuninya mendapat pelajaran sistim pengontrolan, yaitu mengarahkan kepekaan ruhani mereka untuk tujuan yang baik.

Setiap jamaah yang telah selesai menjalankan judrah, mampu menggunakan energi ruhaninya untuk mendeteksi sesuatu. Ini sangat berguna untuk dirinya sendiri. Misalnya ia ingin tahu apakah bulan depan ia bakal mendapat bagian laba usahanya atau tidak. Atau apakah suatu kejadian tertentu akan benar-benar terjadi atau tidak. Ia bisa mendeteksi sehingga tidak bingung. Pendeteksian kepada hal-hal yang lebih rumit dapat dilakukan dengan latihan tertentu dibawah bimbingan seorang pembina senior. Mutu atau kualitas pendeteksian tergantung kepada mutu keimanan, ketakwaan dan ketawakalan seseorang.

 
T : Apakah ini sama dengan apa yang disebut "ramal meramal", yang dilarang agama ?
J : Tidak sama. Yang dilarang oleh agama ialah bila seseorang bertanya kepada sesuatu yang berada diluar dirinya sendiri seperti mengundi nasib kepada tukang ramal, kepada tokek, kartu, dsb.

Pendeteksian adalah satu kemampuan ruhaniah yang berasal dari dirinya (nafs) sendiri yang telah bersih dan takwa kepada Allah. Dalam (sejarah) Islam ada contohnya yaitu dalam diri khalifah Umar ibn Khatab yang dijuluki "al faruk" atau ‘si radar’, yang dapat mendeteksi suatu keadaan/peristiwa dari kejauhan.

Tentu saja, tujuan PETA bukan untuk menjadikan jamaahnya pandai mendeteksi, akan tetapi, sekali lagi, hanya sebagai bonus atau hadiah tambahan dari langit bagi mereka yang berIMAN, berTAKWA dan TAWAKAL kepada Allah. Dan sedemikian jauh, tidak pernah terjadi dampak yang negatif dari penggunaan "ketrampilan" ini. Insya Allah !

 
T : Problem kehidupan apa saja yang biasanya ditangani oleh PETA dan dapatkah diberikan kesaksian oleh mereka yang telah mengalaminya ?
J :

Problem itu bermacam-macam seperi, goncangan jiwa yang disebabkan oleh berbagai sebab seperti, kemelut rumah tangga, krisis ekonomi, kemandekan dalam studi, promosi jabatan/karir, kecanduan narkoba, penyakit tumor, jantung, ginjal, kanker, dll.

Pernah terjadi pada Tahun 1978, seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi UNPAD jurusan Akuntansi yang etnis Tionghoa dan beragama Budha, ujian akhirnya macet karena Profesornya terkenal galak. Setelah dibimbing dengan JUDRAH di Wisma Tawakal, Rawa Bambu beberapa kali, ia lulus setelah bercokol di fakultasnya selama 9 tahun. Ia menceritakan pengalamannya, biasanya si profesor yang galak itu, begitu disodori naskah skripsinya, dengan hanya melihat-lihat sebentar saja, langsung ditolak. Tetapi setelah si mahasiswa tersebut berJUDRAH, puji syukur, ia (profesor tersebut) dengan mulus meluluskannya.

Baru-baru ini ada seorang wanita, janda mengeluh berat hampir-hampir putus asa. Ia berumur + 45 tahun, mempunyai 4 anak yang semuanya menjadi tanggungannya. 3 anak pertama berasal dari perkawinan yang pertama dengan seorang suami yang meninggalkannya karena lebih cinta kepada sebuah partai politik daripada kepada seorang istri dan tiga anaknya. "Ini sungguh gila", komentar seorang yang waras. Anak tertuanya, karena sesuatu hal (umur 27 tahun, belum bekerja), mogok beriman, tidak mau mengakui adanya Tuhan. Masya Allah, dan setiap hari merengeki ibunya agar menyediakan uang tidak kurang dari Rp 250.000,-. Ketika uang itu diberikan, habis entah untuk apa.

Setelah bercerai dengan suami pertama, ia menikah lagi dengan seorang suami (menghasilkan seorang anak laki-laki, 6 tahun), namun perkawinan inipun gagal, karena si suami yang tadinya non Islam dan telah menjadi muslim, kembali kepada agama lamanya, sehingga si wanita tadi (sebut Ny.Tati), menceraikannya. Si bekas suami berang dan mengancam (melalui telepon) untuk menghancurkan Ny.Tati, baik pribadinya maupun usahanya, dengan sombongnya ia bilang : "dirimu akan kubinasakan dan usahamu akan hancur lebur". Bukan main !

Menghadapi tekanan yang demikian itu, Ny.Tati bingung, tak tahu apa yang dilakukan. Beberapa temannya, seorang Kristen mencoba membujuknya agar minta pertolongan kepada Tuhan Jesus; seorang lagi yang beragama Budha, juga mengajaknya agar minta pertolongan melalui Tuhannya. Dalam situasi demikian itu, ia berpikir dengan sedih : mengapa tidak ada orang seagamaku (Islam) yang mengulurkan bantuan seperti yang dilakukan oleh pemeluk agama lainnya ? Syukur Alhamdulillah, Ny.Tati melalui seorang kawannya bertemu dengan PETA, cabang Rawamangun pimpinan Bp. Haji Ariyanto. Melalui bimbingan dzikir jiwa beberapa kali (belum JUDRAH total), Ny.Tati telah merasakan betapa Allah Maha Kasih Sayang kepada hamba-Nya yang berserah diri : problem yang menghimpitnya terangkat. Si bekas suami, bukan hanya menghentikan ancamannya, tetapi bahkan mengajak rujuk kembali. Komentar kami : rupanya kebencian itu berubah menjadi cinta yang membara. Masya Allah. Adapun si anak yang "mbalelo", alhamdulillah telah sadar dan insyaf kekeliruannya. Allah Maha Pengampun.

Peristiwa tersebut menjadi bukti yang nyata mengenai kebenaran janji Allah untuk menolong hambanya yang berserah total kepada-Nya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

Comments are closed.