Seorang murid Ali Zainal Abidin bernama Asy Syibli setelah selesai melaksanakan ibadah haji, pergi menemui gurunya untuk menyampaikan apa-apa yang dialaminya selama berhaji. Terjadilah percakapan di antara keduanya.Ali Zainal Abidin (Ali) : Wahai Syibli, bukankah engkau telah selesai mengerjakan ibadah haji ?

Asy Syibli (Syibli) : Benar, wahai Guru.

Ali : Apakah engkau telah berhenti di Miqat, lalu menanggalkan semua pakaian yang terjahit, yang terlarang bagi orang yang sedang mengerjakan haji, dan kemudian mandi ?

Syibli : Ya, benar!

Ali : Adakah engkau ketika berhenti di Miqat juga meneguhkan niat untuk menanggalkan semua pakaian maksiat dan sebagai gantinya mengenakan pakaian taat ?

Syibli : Tidak.

Ali : Dan pada saat menanggalkan semua pakaian yang terlarang itu, adakah engkau menanggalkan semua sifat riya', nifaq, serta segala yang diliputi syubhat ?

Syibli : Tidak.

Ali : Dan ketika mandi serta membersihkan diri sebelum memulai ihram, adakah engkau berniat mandi dan membersihkan diri dari segala pelanggaran dan dosa-dosa ?

Syibli : Tidak.

Ali : Kalau begitu, engkau tidak berhenti di Miqat, tidak menanggalkan pakaian yang terjahit, dan tidak pula mandi membersihkan diri! Ketika mandi dan berihram serta mengucapkan niat untuk
memasuki ibadah haji, adakah engkau menetapkan niat untuk membersihkan diri dengan cahaya taubat yang tulus kepada Alloh
SWT ?

Syibli : Tidak.

Ali : Dan pada saat niat ber-ihram, adakah engkau berniat mengharamkan atas dirimu segala yang diharamkan oleh Alloh Azza wa Jalla ?

Syibli : Tidak.

Ali : Dan ketika mulai mengikatkan diri dalam ibadah haji,adakah engkau pada waktu yang sama telah melepaskan juga ikatan selain bagi Alloh ?

Syibli : Tidak.

Ali : Kalau begitu, engkau tidak membersihkan diri, tidak ber-ihram, dan tidak pula mengikatkan diri dalam ibadah haji! Bukankah engkau telah memasuki Miqat, lalu shalat ihram dua rakaat,
dan setelah itu mulai menyerukan talbiah?

Syibli : Ya, benar.

Ali : Apakah ketika memasuki Miqat engkau meniatkannya sebagai ziarah menuju keridlaan Alloh ?

Syibli : Tidak.

Ali : Dan ketika shalat ihram dua rakaat, adakah engkau berniat mendekatkan diri, ber-taqarrub kepada Alloh, dengan mengerjakan suatu amalan yang paling utama di antara segala macam
amal, yaitu shalat, yang juga merupakan kebaikan yang utama di antara kebaikan-kebaikan yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya.

Syibli : Tidak.

Ali : Kalau begitu, engkau tidak memasuki Miqat, tidak ber-talbiah, dan tidak shalat ihram dua rakaat! Apakah engkau telah memasuki Masjidil Haram, memandang Ka'bah, serta shalat di sana ?

Syibli : Ya, benar.

Ali : Ketika memasuki Masjidil Haram, adakah engkau berniat mengharamkan atas dirimu segala macam pergunjingan terhadap diri kaum Muslimin ?

Syibli : Tidak.

Ali : Dan ketika sampai di kota Makkah, adakah engkau mengukuhkan niat untuk menjadikan Alloh sebagai satu-satunya tujuan ?

Syibli : Tidak.

Ali : Kalau begitu, engkau tidak memasuki Masjidil Haram, tidak memandang Ka'bah, dan tidak pula bershalat di sana! Apakah engkau telah ber-thawaf mengelilingi Ka'bah Baitullah dan telah
menyentuh rukun-rukunnya ?

Syibli : Ya.

Ali : Pada saat ber-thawaf, adakah engkau berniat berjalan dan berlari menuju keridlaan Alloh yang Maha Mengetahui segala yang ghaib dan tersembunyi ?

Syibli : Tidak.

Ali : Kalau begitu, engkau tidak ber-thawaf mengelilingi Baitullah dan tidak menyentuh rukun-rukunnya. Dan apakah engkau telah berjabatan dengan Hajar Aswad dan berdiri (bershalat) di tempat Maqam Ibrahim ?

Syibli : Ya!

Mendengar jawaban itu, Ali Zainal Abidin tiba-tiba berteriak, menangis, dan meratap, dengan suara merawankan hati seperti hendak meninggalkan hidup ini, seraya berucap, “Oh…oh…..Barangsiapa berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, maka seakan-akan ia berjabatan tangan dengan Alloh SWT! Oleh karena itu, ingatlah baik-baik, wahai insan yang merana dan sengsara. Janganlah sekali-kali berbuat sesuatu yang menyebabkan engkau kehilangan kemuliaan yang telah kau capai, serta membatalkan kehormatan itu dengan pembangkanganmu terhadap Alloh dan mengerjakan yang diharamkan-Nya, sebagaimana dilakukan oleh mereka yang bergelimang dalam dosa-dosa !”

Ali : Ketika berdiri di Maqam Ibrahim, adakah engkau mengukuhkan niat untuk tetap berdiri di atas jalan ketaatan kepada Alloh dan meninggalkan jauh-jauh segala maksiat?

Syibli : Tidak

Ali : Dan ketika shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim, adakah engkau berniat mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s. dalam shalat beliau, serta menentang segala bisikan syetan ?

Syibli : Tidak.

Ali : Kalau begitu engkau tidak berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, tidak berdiri di Maqam Ibrahim, dan tidak pula shalat dua rakaat di dalamnya. Apakah engkau telah mendatangi dan memandangi sumur Zamzam dan minum airnya ?

Syibli : Ya.

Ali : Apakah engkau pada saat memandangnya berniat menujukan pandanganmu kepada semua bentuk kepatuhan kepada Alloh, serta memejamkan mata dari setiap maksiat kepada-Nya ?

Syibli : Tidak.

Ali : Kalau begitu engkau tidak memandangnya dan tidak pula minum airnya!. Apakah engkau telah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah, serta berjalan pulang-pergi antara kedua bukit
itu ?

Syibli : Ya, benar.

Ali : Dan pada saat-saat itu, adakah engkau menempatkan dirimu di antara harapan akan rahmat Alloh dan ketakutan menghadapi azab-Nya ?

Syibli : Tidak.

Ali : Kalau begitu, engkau tidak mengerjakan sa'i dan tidak berjalan pulang-pergi antara keduanya! Engkau telah pergi ke Mina ?

Syibli : Ya.

Ali : Ketika itu, adakah engkau menguatkan niat akan berusaha sungguh-sungguh agar semua orang selalu merasa aman dari gangguan lidah, hati serta tanganmu sendiri ?

Syibli : Tidak.

Ali : Kalau begitu, engkau belum pergi ke Mina! Dan adakah engkau telah ber-wuquf di Arafah, mendaki Jabal Rahmah, mengunjungi Wadi Namirah, serta menghadapkan doa-doa kepada Alloh di bukit-bukit As Shakharaat ?

Syibli : Ya, benar.

Ali : Ketika berdiri wuquf di Arafah, adakah engkau dalam kesempatan itu benar-benar menghayati ma'rifat akan kebesaran Alloh serta mendalami pengetahuan tentang hakikat ilmu yang akan mengantarkanmu kepada-Nya ? Dan apakah ketika itu menyadari benar-benar betapa Alloh yang Maha Mengetahui meliputi segala perbuatan, perasaan, serta kata-kata hati sanubarimu ?

Syibli : Tidak.

Ali : Dan ketika mendaki Jabal Rahmah, adakah engkau sepenuh nya mendambakan rahmat Alloh bagi setiap orang mukmin, serta mengharapkan bimbingan-Nya atas setiap orang Muslim ?

Syibli : Tidak

Ali : Dan ketika berada di Wadi Namirah, adakah engkau berketetapan hati untuk tidak meng-amar-kan sesuatu yang ma'ruf, sebelum meng-amar-kannya pada dirimu sendiri ? Dan tidak melarang seseorang melakukan sesuatu sebelum engkau melarang diri sendiri ?

Syibli : Tidak

Ali : Dan ketika berdiri di bukit-bukit di sana, adakah engkau menyadarkan diri bahwa tempat itu menjadi saksi atas segala kepatuhan kepada Alloh dan mencatatnya bersama-sama para malaikat pencatat, atas perintah Alloh, Tuhan sekalian langit ?

Syibli : Tidak.

Ali : Kalau begitu, engkau tidak ber-wuquf di Arafah, tidak mendaki Jabal Rahmah, tidak mengenal Wadi Namirah, dan tidak pula berdoa di tempat-tempat itu !
Apakah engkau telah melewati kedua bukit Al 'Alamain, mengerjakan shalat dua rakaat sebelumnya, dan setelah itu meneruskan perjalanan ke Muzdalifah untuk memungut batu-batu di sana, kemudian melewati Masy'arul Haram ?

Syibli : Ya.

Ali : Dan ketika shalat dua rakaat, adakah engkau meniatkannya sebagai shalat syukur, pada malam menjelang tanggal sepuluh Dzulhijjah, dengan mengharapkan tersingkirnya segala kesulitan serta datangnya segala kemudahan ?

Syibli : Tidak

Ali : Dan ketika lewat di antara kedua bukit itu dengan sikap lurus tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri, adakah engkau saat itu meneguhkan niat untuk tidak bergeser dari Islam, agama yang haq, baik ke arah kanan ataupun kiri.
Tidak dengan hatimu, tidak pula dengan lidahmu, ataupun dengan semua gerak-gerik anggota tubuhmu yang lain ?

Syibli : Tidak.

Ali : Dan ketika menuju Muzdalifah untuk memungut batu-batu disana, adakah engkau berniat membuang jauh-jauh dari dirimu segala macam maksiat dan kejahilan terhadap Alloh dan sekaligus menguatkan hatimu untuk tetap mengejar ilmu dan amal yang diridlai-Nya ?

Syibli : Tidak

Ali : Dan ketika melewati Al Masy'arul Haram, adakah engkau mengisyaratkan kepada dirimu sendiri, agar ber-syi'ar seperti orang-orang yang penuh takwa dan takut kepada Alloh Azza wa Jalla ?

Syibli : Tidak

Ali : Kalau begitu, engkau tidak melewati Al 'Alamain, tidak shalat dua rakaat, tidak berjalan ke Muzdalifah, tidak memungut batu-batu di sana, dan tidak pula lewat di Masy'arul Haram.
Wahai, Syibli, apakah engkau telah mencapai Mina, melempar Jumrah, mencukur rambut, menyembelih qurban, bershalat di Masjid Khaif, kemudian kembali ke Makkah dan mengerjakan Thawaf Ifadhah ?

Syibli : Ya, benar.

Ali : Ketika sampai di Mina dan melempar Jumrah, adakah engkau berketetapan hati bahwa engkau kini telah sampai ke tujuan dan bahwa Tuhanmu telah memenuhi segala hajatmu ?

Syibli : Tidak

Ali : Dan pada saat melempar Jumrah, adakah engkau meniatkan dalam hati bahwa dengan itu engkau telah mencukur dari dirimu segala kenistaan dan bahwa engkau telah keluar dari segala dosa seperti ketika baru lahir dari perut ibumu ?

Syibli : Tidak.

Ali : Dan ketika shalat di Masjid Khaif, adakah engkau berniat untuk tidak memiliki perasaan khauf (takut), kecuali kepada Alloh serta dosa-dosamu sendiri ? Dan bahwa engkau tiada mengharapkan sesuatu, kecuali rahmat-Nya ?

Syibli : Tidak

Ali : Dan pada saat memotong hewan qurban adakah engkau berniat memotong urat ketamakan dan kerakusan dan berpegang pada sifat wara' yang sesungguhnya? Dan bahwa engkau mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s. yang rela memotong leher putera kesayangannya, buah hati dan penyegar jiwanya, agar menjadi teladan bagi manusia sesudahnya; semata-mata demi mengikuti perintah
Alloh ?

Syibli : Tidak

Ali : Dan ketika kembali ke Makkah dan mengerjakan Thawaf Ifadlah, adakah engkau meniatkan berifadlah dari pusat rahmat Alloh, kembali kepada kepatuhan terhadap-Nya, berpegang teguh pada kecintaan kepada-Nya, menunaikan segala perintah-Nya, serta bertaqarrub selalu kepada-Nya ?

Syibli : Tidak

Ali : Kalau begitu, engkau tidak mencapai Mina, tidak melempar Jumrah, tidak mencukur rambut, tidak menyembelih qurban, tidak mengerjakan manasik, tidak bershalat di Masjid Khaif, tidak berthawaful Ifadlah, dan tidak pula mendekat kepada Tuhan-mu! Kembalilah, kembalilah! Sebab, engkau sesungguhnya belum menunaikan hajimu!

Mendengar itu Syibli menangis tersedu-sedu; meratapi dan menyesali segala sesuatu yang telah dilakukannya dalam masa hajinya. Dan semenjak itu ia giat memperdalam ilmunya, sehingga pada tahun berikutnya ia kembali mengerjakan haji dengan ma'rifat (ilmu yang lebih sempurna) serta keyakinan penuh.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

Related posts:

  1. Dialog Abu Hanifah Dengan Ilmuan Kafir Tentang Ketuhanan
  2. Ali bin Abi Thalib

Comments are closed.