Kesejukan merambat menuju kalbukuÖ
Selepas isya ku buang segala penat nan sarat
Memikirkan separuh perjalan hidup iniÖ
Dengan memandang sebuah bintang diangkasa sana.
Terus kau pancarkan sinar dimalam kelamÖ
Tiada pernah mengeluh seberapa banyak manusia yang bisa kau ajak cengkrama
Tapi kau tak pernah merasa lelah membelai mereka sepanjang keheningan malam .
Bahkan kau tak pernah merasa kesal untuk seolah ditiadakan manusia.
Andai saja kau dapat berkata-kata wahai sang bintangÖ
Tentu ingin kau utarakan segenap uneg-unegmu tentang manusia dan dunia
Dan betapa ingin segeranya kau kabarkan rahasia langit pada manusiaÖ
Namun apa yang yang kau dapati?mereka memilih untuk tetap terlelap dalam belaian suasana.
Namun wahai kau sang bintangÖ..
Hanya bisa menangis tatkala kokok ayam menyapamu di waktu subuh..
Dan kau kembali menyesali ke tak berdayaanmu akan amanat langit yang kau pikul setiap hari
Karena kau takut Tuhanmu akan murka atas dua waktu yg tersia-sia untuk hambanya.
Yah sudahlah memang takdirmu untuk selalu menagis di dua waktuÖ
Tangisan pertama ketika tahajud tiba,sinarmu tak mampu menggetarkan hati mereka..
Lalu tangisan ke dua ketika shalat subuh menjelang, cahayamu meredup tak mampu lagi menyentuh jiwa ..
Kita ini sama ciptaaNya, hanya kau lebih tau murkaNya dibandingkan aku.
Jakarta,13 Agustus 2003

