Archive for the ‘Aura Para Rasul’ Category

Disadari atau tidak, wujud Tuhan  pasti  dirasakan  oleh  jiwa manusia  baik  redup  atau  benderang. Manusia menyadari bahwa suatu ketika dirinya akan mati. Kesadaran ini  mengantarkannya kepada  pertanyaan  tentang  apa  yang  akan  terjadi  sesudah kematian,  bahkan  menyebabkan  manusia  berusaha   memperoleh kedamaian dan keselamatan di negeri yang tak dikenal itu.

Nabi Muhammad saw mengorbankan sebagian besar waktunya dengan meditasi di dalam kesunyian gua Hira. Pada suatu hari, ketika beliau sedang tekun bermeditasi, beliau menerima wahyu yang pertama.

Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya – tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad!”. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut [...]

Dalam perjalanan Hijrah menuju Madinah, Rasulallah SAW sempat berhenti dan berteduh di bawah sebuah pohon yang terletak di atas bukit Tsaur. Sambil melihat ke bawah, ke arah Makkah, dengan diiringi tangisan beliau mengucapkan salam perpisahan, ìWahai Makkah! Demi Allah, aku mengetahui engkaulah tanah yang paling dicintai Allah. Kalau tidak karena pendudukmu mengusirku, niscaya aku takkan [...]

Isak tangis para sahabat yang sedang duduk mengelilingi Rasulallah SAW, mengherankan seorang pemuda yang ikut duduk di majlis. Mereka semua menangis terisak, bahkan Nabi sendiri menyampaikan nasehatnya dengan suara parau. Sedang si pemuda, tak setetespun air mata keluar dari kelopak matanya.

Nabi Ibrahim as pernah berjalan bermil-mil untuk mencari seseorang yang akan diajak untuk makan bersama. Nabi yang memiliki julukan sebagai Khalilullah (sahabat karib Allah) ini, memang memiliki keistimewaan tersendiri. Beliau berhati lembut, penuh kasih sayang dan sangat menyenangi tamu. Bahkan dalam riwayat disebutkan, bahwa beliau selalu berusaha agar tidak makan sendirian, tak aneh bila jarak [...]

Abu Nuíaim meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw. Berkata kepada para istrinya, ìDi antara kamu akan ada seseorang yang menunggangi unta merah, dan di sekitarnya banyak anjing yang menggonggong dan banyak orang yang meninggal dunia, tetapi ia akan selamat, padahal ia sudah hampir terbunuh.î

Dari pada Ibnu Masíud ra bahawasanya ia berkata: Ketika ajal Rasulullah SAW sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aisyah ra.

Perkawinan Abdullah dengan Aminah Usia Abd’l-Muttalib sudah hampir mencapai tujuhpuluh tahun atau lebih tatkala Abraha mencoba menyerang Mekah dan menghancurkan Rumah Purba. Ketika itu umur Abdullah anaknya sudah duapuluh empat tahun, dan sudah tiba masanya dikawinkan.

Menceriterakan sakit dan wafatnya Nabi; termasuk sejarah nabi-nabi palsu diawal sejarah Islam dan penunjukkan Abu Bakr untuk menjadi imam sholat